Selasa, 17 Maret 2015

RUN FOR LEPROSY 2015 with TEACH FOR INDONESIA - UNIVERSITAS BINA NUSANTARA

Saya takjub dengan kegiatan Run for Leprosy 2015 yang merupakan acara lari yang pertama di lakukan di Indonesia dengan tujuan meningkatkan pengetahuan tentang kusta kepada masyarakat luas, melakukan penggalangan dana, dan menularkan semangat lari yang positif. Awalnya saya masih perlu berpikir ulang apakah saya sempat, apakah saya ada waktu, karena jadwal perkuliahan yang begitu padat, bahkan saya dan tim termasuk pendaftar di hari terakhir pendaftaran, namun saya sadari, meluangkan waktu untuk peduli tidak akan merugikan bagi diri saya. Begitu mengikuti kegiatannya, ternyata banyak peserta yang ikut serta dan tidak sekedar main-main melainkan memang peduli tentang kegiatan charity ini, bahkan untuk pelaksana dan panitia acara mempersiapkannya begitu hebat, sehingga dapat berjalan dengan lancar dan dapat dibilang sukses besar!!  Saya termasuk pribadi yang jarang sekali olahraga, dan untuk langsung lari 5km itu cukup berat bahkan kata orang kebanyakan bisa kram, cidera, dan menyebabkan badan terasa sakit di kemudian hari karena langsung dipaksakan, ternyata melakukan suatu kegiatan dari hati mengalahkan semua itu, saya mampu berlari 5km dalam waktu 1 jam, bahkan saya masih dapat berkuliah di keesokan hari tanpa merasa begitu lelah. Because "We run We care !!"


Semester 2 lalu, kebetulan saya mendapat tugas kelompok sebagai duta peduli kusta, saya sudah merasa cukup bangga dapat memberikan informasi kepada orang-orang di sekitar saya. Kami mensosialisasikan ke puskesmas daerah Jakarta Barat, dan 2 sekolah. Pengetahuan tentang kusta memang sangat diperlukan, karena Indonesia berada di peringkat ke-3 sebagai penyumbang kusta di dunia. Kita harus memulai untuk mengurangi hal tersebut, dengan cara memberikan pengetahuan bahwa kusta kini dapat disembuhkan dengan obat yang sudah tersedia secara cuma-cuma di puskesmas dan rumah sakit yang disediakan oleh PEMDA DKI, kusta tidak akan menular jika penderita kusta telah mengkonsumsi obat secara rutin dan diobati sejak dini. Kita perlu mengenali tanda-tanda kusta, dimana terdapat kelainan di kulit berupa bercak putih atau kemerahan yang tidak gatal, tidak sakit, bahkan mati rasa ketika bercak tersebut dikenai ujung kecil lilitan kapas. Jika ada gejala seperti ini di diri kita atau di orang-orang sekitar kita, segera periksakan, jangan menjauhi diri atau menghindari orang tersebut. Ubahlah stigma yang ada menjadi sebuah dukungan, karena dari diri kitalah yang harus memulai untuk mengubah keadaan di Indonesia.

Sebagai komitmen dari diri saya sendiri, saya tidak berhenti untuk menjadi bagian duta peduli kusta, dan saya akan terus membantu untuk meningkatkan pengetahuan tentang kusta dan mengubah stigma masyarakat menjadi sebuah dukungan. Saya masih terus memegang kata-kata ketika melakukan sosialisasi di semester 2 lalu, bahwa Duta Peduli Kusta – Together We Can Change Indonesia


Saran saya untuk sosialisasi selanjutnya, marilah kita mulai dari lingkungan kecil di sekitar kita yang terkadang kurang peduli terhadap kesehatan atau tidak mampu memperdulikan kesehatan karena keterbatasan dana, dengan menghadirkan orang-orang berpengalaman sehingga selain mensosialisasikan, dapat langsung memeriksa keadaan warga di daerah yang dikunjungi, bahkan dapat melaksanakan pengobatan sejak dini jika ternyata memang terdapat penderita kusta. Mari mulai mengajak partisipasi diberbagai daerah sehingga peningkatan pengetahuan dapat dilaksanakan dengan cepat dan merata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar